Lima belas tahun adalah waktu yang diperlukan Johanna Sigurðardóttir untuk mencapai puncak kekuasaan di Republik Islandia, sebuah negeri mungil di lingkar luar Kutub Utara. Ahad dua pekan lalu, perempuan 66 tahun itu disumpah sebagai perdana menteri, menggantikan Geir Hilmar Haarde.
Rapor Johanna dari segi pengalaman politik dan legislasi matang benar. Masuk parlemen Islandia pada 1978, dia lama bertahan di lembaga itu—hanya terputus tujuh tahun saat dia pindah ke kursi Menteri Hubungan Sosial (1987-1994). Pada 2007, Johanna kembali ke kabinet sebagai Menteri Sosial. Puncaknya, dia resmi memimpin pemerintahan Islandia dari kantor perdana menteri pada pekan lalu.
Popularitas Johanna kian melejit oleh posisi baru itu. Media-media dalam negeri berkejaran memasang wajah dan kisahnya di media cetak dan televisi. Media-media asing pun tak kalah bersemangatnya. Tapi yang lebih mereka ramaikan bukan kemampuan dia sebagai pemimpin ataupun politikus, melainkan urusan ”kamar tidur”-nya. Johanna seorang lesbian. Dia mencatat ”rekor” sebagai pemimpin negara pertama di dunia yang berterus terang sebagai homoseksual.